RINGKASAN MATERI 1 ,2 & 3
Disusun Oleh ;
Moch Robbis Salam/ 1884202018
Pend Matematika STKIP PGRI SIDOARJO
PENGERTIAN PAIKEM
PAIKEM merupakan singkatan dari Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif,dan Menyenangkan.
PAIKEM dapat didefinisikan sebagai pendekatan mengajar (approach to teaching) yang digunakan bersama metode tertentu dan berbagai media pengajaran yang disertai penataan lingkungan sedemikian rupa agar proses pembelajaran menjadi aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.
Menurut Muhibbin Syah ( 2009:13-34) PAIKEM dijabarkan sebagai berikut :
1. Pembelajaran Aktif
2. Pembelajaran Inovatif
3. Pembelajaran Kreatif
4. Pembelajaran Efektif
5. Pembelajaran Menyenangkan
1. Pembelajaran Aktif
Pembelajaran yang aktif berarti pembelajaran yang memerlukan keaktifan semua siswa dan guru secara fisik, mental, emosional, bahkan moral dan spiritual.
2. Pembelajaran Inovatif
Pembelajaran inovatif dapat diartikan sebagai pembelajaran yang dirancang oleh guru, yang sifatnya baru.
3. Pembelajaran Kreatif
Pembelajaran kreatif dapat diartikan sebagai pembelajaran yang memberikan variasi.
4. Pembelajaran Efektif
Pembelajaran efektif dapat diartikan sebagai tercapainya sasaran atau minimal mencapai kompetensi dasar yang telah ditetapkan.
5. Pembelajaran Menyenangkan
Pembelajaran menyenangkan diartikan sebagai suasana belajar mengajar yang hidup, semarak, terkondisi untuk terus berlanjut, ekspresif dan mendorong pemusatan perhatian perserta didik terhadap belajar.
KARAKTERISTIK PAIKEM
Sebagai pendekatan pembelajaran PAIKEM memiliki karakteristik sebagai berikut :
1. Berpusat pada siswa (student-centered ).
2. Belajar yang menyenangkan (joyfull learning).
3. Belajar yang berorientasi pada tercapainya kemampuan tertentu (competencybased learning).
4. Belajar secara tuntas (mastery learning).
5. Belajar secara berkesinambungan (continuous learning).
6. Belajar sesuai dengan ke-kini-an dan kedisini-an (contextual learning).
SINTAKS atau Langkah-langkah PAIKEM
Fase 1 (Pendahuluan)
1.Mengaitkan pelajaran dengan pelajaran sebelumnya
2. Memotivasi siswa
3. Memberikan pertanyaan kepada siswa untuk mengetahui konsep-konsep prasyarat yang sudah dikuasai siswa
4. Menjelaskan tujuan pembelajaran.
Fase 2 (presentasi materi konsep-konsep yang harus dikuasai oleh siswa melalui demonstrasi dan bahan bacaan)
1. Presentasi keterampilan proses yang dikembangkan
2. Presentasi alat dan bahan yang dibutuhkan melalui bagan
3. Memodelkan penggunaan peralatan melalui bagan.
Fase 3 (membimbing pelatihan)
1. Menempatkan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar
2. Mengingatkan cara siswa bekerja dan berdiskusi secara kelompok
3. Membagi buku siswa dan lks
4. Mengingatkan cara menyususn laporan hasil kegiatan
5. Memberikan bimbingan seperlunya
6. Mengumpulkan hasil kerja kelompok setelah batas waktu ditentukan.
Fase 4 (menelaah pemahaman dan memberikan umpan balik)
1. Mempersiapkan kelompok belajar untuk diskusi kelas
2. Meminta salah satu anggota kelompok untuk
mempresentasikan hasil kegiatan sesuai dengan lks yang telah dikerjakan
3. Meminta anggota kelompok lain menanggapi hasil presentasi
4. Membimbing siswa menyimpulkan hasil diskusi.
Fase 5 (mengembangkan dengan memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjut dan penerapan)
1. Mengecek dan memberikan umpan balik terhadap tugas yang diberikan
2. Membimbing siswa menyimpulkan seluruh materi pembelajaran yang baru saja dipelajari
3. Memberikan tugas rumah.
Fase 6 (Menganalisa dan mengevaluasi)
1. guru membantu siswa untuk melakukan refleksi
2. Guru mengevaluasi kinerja siswanya.
METODE
Pembelajaran PAIKEM ini bisa menggunakan berbagai macam metode. Contoh Metode yang diterapkan oleh kelompok 1 adalah ;
1. Everyone is a teacher here (setiap murid sebagai guru)
Strategi ini sangat tepat untuk mendapatkan partisipasi kelas secara
keseluruhan dan secara individual. Strategi ini memberikan kesempatan
kepada siswa untuk berperan sebagai guru bagi kawan-kawannya.
Langkah-langkah:
1) Bagikan secarik kertas kepada seluruh siswa. Setiap siswa diminta
untuk menuliskan satu pertanyaan tentang materi pelajaran yang
sedang dipelajari di kelas.
2) Kumpulkan kertas, acak kertas tersebut kemudian bagikan kepada
setiap siswa. Pastikan bahwa tidak ada siswa yang menerima soal
yang ditulis sendiri. Minta mereka untuk membaca dalam hati
pertanyaan dalam kertas tersebut kemudian memikirkan jawabannya.
3) Minta siswa secara sukarela untuk membacakan pertanyaan tersebut
dan menjawabnya.
4) Setelah jawaban diberikan, mintalah siswa lainnya untuk
menambahkan.
5) Lanjutkan dengan sukarelawan berikutnya.
KELEBIHAN dan KEKURANGAN PAIKEM
Kelebihan PAIKEM
1. Mengalami
Peserta didik terlibat secara aktif baik fisik, mental maupun emosional.
2. Komunikasi
Kegiatan pembelajaran memungkinkan terjadinya komunikasi antara guru dan peserta didik.
3. Interaksi
Kegiatan pembelajarannya memungkinkan terjadinya interaksi multi arah.
4. Refleksi
Kegiatan pembelajaran yang memungkinkan peserta didik memikirkan kembali apa yang telah dilakukan.
Kelemahan PAIKEM
1. Membutuhkan dana, dalam pembelajaran PAIKEM sering kita memakai media sehingga membutuhkan biaya yang lebih untuk menunjang proses pembelajaran.
2. Pengembangan RPP, dalam pembelajaran PAIKEM guru dituntut untuk kerja extra dalam pengembangan pembuatan RPP agar dapat menciptakan pembelajaran yang diinginkan.
3. Manajemen kelas, dalam pembelajaran ini guru harus selalu dapat menciptakan suasana kelas yang kondusif dan menyenangkan.
4. Kurangnya kreatifitas guru, dalam pembelajaran PAIKEM guru cenderung malas untuk melalkukan pembelajaran yang inovatif.
PENGERTIAN Model Pembelajaran Problem Posing
Problem posing merupakan istilah dalam bahasa inggris yang berasal dari kata “Problem” yang memiliki arti masalah, soal, atau persoalan, dan kata “to pose” yang artinya mengajukan. Sehingga Problem posing diartikan sebagai pengajuan soal atau pengajuan masalah.
Pada prinsipnya, model pembelajaran problem posing adalah suatu model pembelajaran yang mewajibkan para siswa untuk mengajukan soal sendiri melalui belajar soal (berlatih soal) secara mandiri.
Sehingga, dapat disimpulkan bahwa model problem posing adalah model pembelajaran yang mewajibkan siswa belajar melalui pengajuan soal dan pengerjaan soal secara mandiri tanpa bantuan guru.
KARAKTERISTIK MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM POSING
Pembelajaran problem posing memiliki ciri-ciri sebagai berikut ;
1. Pendidik menjadi rekan peserta didik yang melibatkan diri dan menstimulasi daya pemikiran kritis peserta didiknya serta mereka saling memanusiakan.
2. Pendidik dan peserta didik dapat mengembangkan kemampuannya untuk mengerti secara kritis dirinya dan dunia tempat ia berada.
3. Pembelajaran problem posing senantiasa membuka rahasia realita yang menantang kemudian menuntut suatu tanggapan terhadap tantangan tersebut.
Jenis / Tipe Model Pembelajaran Problem Posing
1) Problem Posing tipe Pre Solution Posing
yaitu perumusan soal yang berkaitan dengan syarat-syarat pada soal yang dipecahkan dalam rangka mencari alternatif pemecahan lain.
2) Problem posing tipe Within Solution Posing
yaitu perumusan soal sederhana atau perumusan ulang soal yang ada dengan beberapa perubahan agar lebih sederhana dan dapat dipahami dalam rangka memecahkan soal yang rumit. Siswa diminta merumuskan kembali soal yang telah diberikan melalui tahapan-tahapan/langkah-langkah tertentu sehingga soal yang diberikan menjadi lebih sederhana.
3) Problem Posing tipe Post Solution Posing
yaitu merumuskan atau membuat soal sejenis dari situasi yang diberikan. Siswa akan dilatih kemampuannya untuk menyusun soal sendiri, selanjutnya soal atau permasalahan tersebut diselesaikan sendiri sesuai dengan contoh-contoh yang diberikan oleh guru.
SINTAKS atau Langkah-langkah Model Pembelajaran Problem Posing
Amri (2013 :13) menyatakan bahwa langkah-langkah model pembelajaran problem posing yaitu :
1. Guru menjelaskan materi pelajaran, alat peraga yang disarankan
2. Guru Memberikan latihan soal secukupnya.
3. Siswa mengajukan soal yang menantang dan dapat menyelesaikan. Ini dilakukan dengan kelompok.
4. Pertemuan berikutnya guru meminta peserta didik menyajikan soal di depan kelas.
5. Guru memberikan tugas rumah secara individual.
Model Pembelajaran Problem Posing Dalam Pembelajaran Matematika
Model pembelajaran problem posing dalam pembelajaran matematika dibutuhkan keterampilan sebagai berikut :
1. Menggunakan strategi pengajuan soal untuk menginvestigasi dan memecahkan masalah yang diajukan.
2. Memecahkan masalah dari situasi matematika dari kehidupan sehari-hari.
3. Menggunakan sebuah pendekatan yang tepat untuk mengemukakan masalah pada situasi matematika.
4. Mengenali hubungan antara materi-materi yang berbeda dalam matematika.
5.Mempersiapkan solusi dan strategi terhadap situasi masalah baru.
6. Mengajukan masalah yang kompleks dan juga masalah yang sederhana.
7. Menggunakan penerapan subjek yang berbeda dalam mengajukan masalah matematika.
KELEBIHAN dan KEKURANGAN Model Pembelajaran Problem Posing
Kelebihan Model Pembelajaran Problem Posing;
1. Siswa aktif dalam kegiatan pembelajaran.
2. Minat yang positif terhadap materi pembelajaran.
3. Membantu siswa untuk melihat permasalahan yang ada sehingga meningkatkan kemampuan menyelesaikan masalah.
4. Memunculkan ide yang kreatif dalam mengajukan soal.
5. Mengetahui proses bagaimana cara siswa memecahkan masalah.
Kekurangan Model Pembelajaran Problem Posing;
1. Pembelajaran model problem posing membutuhkan waktu yang lama.
2. Agar pelaksanaan kegiatan dalam membuat soal dapat dilakukan dengan baik perlu ditunjang oleh buku-buku yang dapat dijadikan pemahaman dalam kegiatan belajar terutama membuat soal.
PENGERTIAN Pendekatan Open Ended
Pendekatan Open Ended merupakan sebuah pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah terbuka,dimana satu masalah memiliki banyak solusi atau banyak cara penyelesaian.
Pendekatan ini memberi kesempatan kepada siswa untuk berpikir bebas sesuai dengan minat dan kemampuannya. Dengan demikian kemampuan berpikir matematis siswa dapat berkembang secara maksimal dan kegiatan-kegiatan kreatif siswa dapat terkomunikasikan melalui proses pembelajaran.
PRINSIP Pendekatan Open Ended
Pendekatan Open Ended prinsipnya sama dengan pembelajaran berbasis masalah yaitu pendekatan pembelajaran yang didalam prosesnya dimulai dengan memberi suatu masalah kepada peserta didik. Bedanya, problem yang disajikan memiliki jawaban benar lebih dari satu.
Contoh penerapan Problem Open Ended dalam kegiatan pembelajaran adalah ketika peserta didik diminta mengembangkan pendekatan,cara,atau pendekatan yang berbeda dalam menjawab permasalahan yang diberikan.
Problema yang Didapat dari Pendekatan Open Ended
Pembelajaran dengan pendekatan open ended diawali dengan memberikan masalah terbuka kepada siswa. Kegiatan pembelajaran harus mengarah dan membawa siswa dalam menjawab masalah dengan banyak cara juga dengan banyak jawaban yang benar,sehingga merangsang kemampuan intelektual dan pengalaman siswa dalam proses menemukan sesuatu yang baru.
Contoh ; Pada suatu kompetisi sepak bola,komisi pertandingan mencatat jumlah penjualan tiket penonton. Pada pertandingan hari kamis tiket penonton terjual 2457 lembar, pada hari sabtu dan minggu berturut-turut terjual 3169 lembar dan 4852 lembar. Hitunglah jumlah tiket yang terjual dari tiga kali pertandingan tersebut !
Tujuannya adalah untuk membantu mengembangkan kegiatan kreatif dan pola pikir matematik siswa semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan setiap siswa.
Menyusun Rencana Pendekatan Open Ended
Pada tahap ini hal-hal yang harus diperhatikan dalam mengembangkan rencana pembelajaran yang baik adalah sebagai berikut
1. Tuliskan respon siswa yang diharapkan. siswa diharapkan merespon masalah dengan berbagai cara sudut pandang. Oleh karena itu guru harus menyiapkan atau menuliskan daftar antisipasi respon siswa terhadap masalah.
2. Tujuan dari masalah itu diberikan kepada siswa harus jelas. Guru memahami dengan baik peranan masalah itu dalam keseluruhan rencana pembelajaran.
3. Sajikan masalah semenarik mungkin bagi siswa. Konteks permasalahan yang diberikan atau disajikan harus dapat dikenal baik oleh siswa dan harus membangkitkan keingintahuan serta semangat intelektual siswa.
4. Berikan waktu yang cukup bagi siswa untuk mengeksplorasi masalah. Guru harus memberi waktu yang cukup kepada siswa untuk mengeksplorasi masalah.
SINTAKS atau Langkah-langkah Pendekatan Open Ended
a. Kegiatan Awal
1. Guru melakukan tanya jawab unutk mengecek pengetahuan prasyaratdan keterampilan yang dimiliki siswa (apersepsi).
2. Guru menginformasikan kepada siswa materi yang akan mereka pelajari, dan kegunaan materi tersebu (motivasi).
b. Kegiatan Inti
1. Memberikan masalah, guru memberikan masalah open ended yang berkaitan dengan materi yang diajarkan sehingga siswa dapat memahaminya dan menemukan pendekatan penyelesaiannya.
2. Mengeksplorasi masalah, waktu mengeksplorasi masalah dibagi dala dua sesi.
3. Merekam respon siswa.
4. Guru mencatat respon siswa.
5. Meringkas apa yang dipelajari.
c. Kegiatan Akhir
1. Guru meluruskan misskonsepsi yang terjadi (jika ada).
2. Guru memberikan perluasan wawasan bagi siswa terkait dengan konsep yang baru saja didiskusikan.
3. Guru memberikan soal-soal atau tugas untuk dikerjakan dirumah.
4. Guru memberikan informasi tentang materi yang akan dipelajari pada pertemuan berikutnya.
KELEBIHAN dan KEKURANGAN Pendekatan Open Ended
Kelebihan Pendekatan Open Ended
1. Siswa berpasitipasi lebih aktif dalam pembelajaran dan sering mengekspresikan idenya.
2. Siswa memiliki kesempatan lebih banyak dalam memanfaatkan pengetahuan dan ketrampilan matematik secara komprehensif.
3. Siswa dengan kemampuan matematika rendah dapat merespon permasalahan dengan cara mereka sendiri.
4. Siswa secara intrinsik termotivasi untuk memberikan bukti atau penjelasan.
5. Siswa memiliki pengalaman banyak untuk menemukan sesuatu dalam menjawab permasalahan.
Kelemahan Pendekatan Open Ended
1. Mengemukakan masalah yang langsung dapat dipahami siswa sangat sulit sehingga banyak siswa yang mengalami kesulitan bagaimana merespon permasalahan yang diberikan.
2. Siswa dengan kemampuan tinggi bisa merasa ragu atau mencemaskan jawaban mereka.
3. Sebagian siswa yang merasa bahwa kegiatan belajar mereka tidak menyenangkan karena kesulitan yang mereka hadapi.
Senin, 16 Maret 2020
Rabu, 01 Januari 2020
MAKALAH PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE PBI KEL.3
MAKALAH
STRATEGI BELAJAR MENGAJAR
Disusun oleh :
M.Mawahibus shomad
Aprilliya utari
Conie francies enus
Moch Robbis Salam
DAFTAR ISI
Pengertian Problem based instruction..........................................................................................................
Jenis-jenis problam based instruction.........................................................................................................
Karakteristik problem based instruction..........................................................
Langkah-langkah problem based instruction....................................................
Kelebihan dan kekurangan................................................................................
PROBLEM BASED INSTRUCTION
Problem based instruction (PBI) atau pembelajaran berdasarkan masalah (PBM) adalah suatu model pembelajaran yang menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengembangkan pengetahuan baru bagi siswa melalui proses kerja kelompok yang membutuhkan penyelesaian nyata sehingga membuat siswa berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran.
Model pembelajaran berbasis masalah berpusat pada kegiatan siswa. Dalam proses pembelajaran, guru bertindak sebagai fasilitator sedangkan siswa yang dituntut untuk lebih aktif dalam bertanya, menjawab, berpendapat, menyanggah pendapat, dan sebagainya.
Pembelajaran berdasarkan masalah merupakan pendekatan yang efektif untuk pengajaran proses berpikir tingkat tinggi. Pembelajaran ini membantu siswa untuk memproses informasi yang sudah jadi dalam benaknya dan menyusun pengetahuan mereka sendiri tentang dunia sosial dan sekitarnya.
Berikut ini beberapa pengertian dan definisi model pembelajaran problem based instruction dari beberapa sumber buku:
Menurut Trianto (2009:92), problem based instruction merupakan suatu pendekatan pembelajaran dimana peserta didik mengerjakan permasalahan yang autentik dengan maksud untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan inkuiri dan keterampilan berpikir tingkat lebih tinggi, mengembangkan kemandirian dan percaya diri.
Menurut Suyatno (2009:58), problem based instruction adalah suatu proses pembelajaran yang titik awal pembelajaran berdasarkan masalah dalam kehidupan nyata lalu dari masalah ini siswa dirangsang untuk mempelajari masalah berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang telah mereka punyai sebelumnya (prior knowledge) sehingga akan terbentuk pengetahuan dan pengalaman baru.
Menurut Rusman (2014:237), problem based instruction adalah model pembelajaran yang dapat membangkitkan pemahaman siswa terhadap masalah, sebuah kesadaran akan adanya kesenjangan, pengetahuan, keinginan memecahkan masalah, dan adanya persepsi bahwa mereka mampu memecahkan masalah tersebut.
Menurut Purwaningsih (2013:5), problem based instruction dikembangkan untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir, pemecahan masalah dan ketrampilan intelektual, belajar berbagai peran, melalui pengalaman belajar dalam kehidupan nyata.
Jenis-jenis Problem Based Instruction
Menurut Trianto (2009:92), terdapat empat macam pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Instruction), yaitu:
Pembelajaran berdasarkan proyek (Project-Based Instruction), pendekatan pembelajaran yang memperkenankan siswa untuk bekerja mandiri dalam mengkonstruksikannya pembelajarannya.
Pembelajaran berdasarkan pengalaman (Experience-Based Instruction), pendekatan pembelajaran yang memperkenankan siswa melakukan percobaan guna mendapatkan kesimpulan yang benar dan nyata.
Belajar otentik (Authentic Learning), pendekatan pengajaran yang memperkenankan siswa mengembangkan ketrampilan berpikir dan memecahkan masalah yang penting dalam konteks kehidupan nyata.
Pembelajaran bermakna (Anchored Instruction), pendekatan pembelajaran yang mengikuti metodologi sains dan memberi kesempatan untuk pembelajaran bermakna.
Karakteristik Problem Based Instruction
Menurut Trianto (2009:93), ciri-ciri atau karakteristik model pembelajaran berbasis masalah adalah sebagai berikut:
Pengajuan Pertanyaan atau Masalah (memahami masalah). Bukannya mengorganisasikan di sekitar prinsip-prinsip atau keterampilan akademik tertentu, pembelajaran berdasarkan masalah mengorganisasikan pengajaran di sekitar pertanyaan dan masalah yang dua-duanya secara sosial penting dan secara bermakna untuk siswa.
Berfokus pada keterkaitan antar disiplin. Meskipun pembelajaran berbasis masalah mungkin berpusat pada mata pengajaran tertentu (IPA, matematika, dan ilmu-ilmu sosial), masalah yang akan diselidiki telah dipilih benar-benar nyata agar dalam pemecahannya, siswa meninjau masalah itu dari banyak mata pelajaran.
Penyelidikan Autentik. Pembelajaran berbasis mengharuskan siswa melakukan penyelidikan autentik untuk mencari penyelesaian nyata terhadap masalah nyata. Mereka harus menganalisis dan mendefinisikan masalah, mengembangkan hipotesis, melakukan eksperimen (jika diperlukan), membuat inferensi dan merumuskan kesimpulan.
Menghasilkan produk dan memamerkannya. Pembelajaran berbasis masalah menuntut siswa untuk menghasilkan produk tertentu dalam bentuk karya nyata atau artefak dan peragaan yang menjelaskan atau mewakili bentuk penyelesaian masalah yang mereka temukan. Produk tersebut dapat berupa transkrip debat. Produk itu dapat juga berupa laporan, model fisik, video maupun program komputer.
Kolaborasi/kerja sama. Pembelajaran berbasis masalah dicirikan oleh siswa yang bekerja sama satu dengan yang lainnya, paling sering secara berpasangan atau dalam kelompok kecil. Bekerja sama memberikan motivasi untuk secara berkelanjutan terlibat dalam tugas-tugas kompleks dan memperbanyak peluang untuk berbagai inkuiri dan dialog dan untuk mengembangkan keterampilan sosial dan keterampilan berfikir.
Langkah-langkah Problem Based Instruction
Menurut Trianto (2009:98), langkah-langkah atau tahapan pembelajaran menggunakan model problem based instruction adalah sebagai berikut:
Tahap-1 (Orientasi siswa pada masalah). Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan, mengajukan fenomena atau demonstrasi atau cerita untuk memunculkan masalah, memotivasi siswa untuk terlibat dalam pemecahan.
Tahap-2 (Mengorganisasi siswa untuk belajar). Guru membantu siswa untuk mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut.
Tahap-3 (Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok). Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah.
Tahap-4 (Mengembangkan dan menyajikan hasil karya). Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video, dan model serta membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya.
Tahap-5 (Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah). Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.
Kelebihan dan Kekurangan Problem Based Instruction
Model pembelajaran problem based instruction memiliki beberapa kelebihan atau keunggulan sebagai berikut:
Peserta didik dilibatkan pada kegiatan belajar sehingga pengetahuannya benar-benar diserap dengan baik.
Dilatih untuk mandiri dan bekerja sama dengan peserta didik lain.
Berperan aktif dan menuntut keterampilan berfikir peserta didik yang lebih tinggi dalam pembelajaran.
Peserta didik dapat merasakan manfaat pembelajaran matematika sebab masalah yang diselesaikan merupakan masalah sehari-hari.
Dapat mengembangkan cara berfikir logis serta berlatih mengemukakan pendapat.
Sedangkan kelemahan atau kekurangan menggunakan model pembelajaran problem based instruction yaitu:
Untuk peserta didik yang malas, tujuan dari model tersebut tidak akan tercapai.
Membutuhkan banyak waktu.
Menuntut guru membuat perencanaan pembelajaran yang lebih matang.
Daftar Pustaka
Trianto. 2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif - Progresif Konsep, Landasan dan Implementasinya pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: Kencana.
Suyatno. 2009. Menjelajah Pembelajaran Inovatif. Sidoarjo: Masmedia Buana Pusaka.
Rusman. 2014. Model-model Pembelajaran (Mengembangkan Profesionalisme Guru). Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Purwaningsih, Ira. 2013. Model Pembelajaran Problem Based Instruction (PBI) Untuk Meningkatkan Keaktifan Belajar dan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa, Jurnal Pendidikan Geografi. Malang: Universitas Negeri Malang.
https://www.kajianpustaka.com/2018/11/model-pembelajaran-problem-based-instruction.html
STRATEGI BELAJAR MENGAJAR
Disusun oleh :
M.Mawahibus shomad
Aprilliya utari
Conie francies enus
Moch Robbis Salam
DAFTAR ISI
Pengertian Problem based instruction..........................................................................................................
Jenis-jenis problam based instruction.........................................................................................................
Karakteristik problem based instruction..........................................................
Langkah-langkah problem based instruction....................................................
Kelebihan dan kekurangan................................................................................
PROBLEM BASED INSTRUCTION
Problem based instruction (PBI) atau pembelajaran berdasarkan masalah (PBM) adalah suatu model pembelajaran yang menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengembangkan pengetahuan baru bagi siswa melalui proses kerja kelompok yang membutuhkan penyelesaian nyata sehingga membuat siswa berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran.
Model pembelajaran berbasis masalah berpusat pada kegiatan siswa. Dalam proses pembelajaran, guru bertindak sebagai fasilitator sedangkan siswa yang dituntut untuk lebih aktif dalam bertanya, menjawab, berpendapat, menyanggah pendapat, dan sebagainya.
Pembelajaran berdasarkan masalah merupakan pendekatan yang efektif untuk pengajaran proses berpikir tingkat tinggi. Pembelajaran ini membantu siswa untuk memproses informasi yang sudah jadi dalam benaknya dan menyusun pengetahuan mereka sendiri tentang dunia sosial dan sekitarnya.
Berikut ini beberapa pengertian dan definisi model pembelajaran problem based instruction dari beberapa sumber buku:
Menurut Trianto (2009:92), problem based instruction merupakan suatu pendekatan pembelajaran dimana peserta didik mengerjakan permasalahan yang autentik dengan maksud untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan inkuiri dan keterampilan berpikir tingkat lebih tinggi, mengembangkan kemandirian dan percaya diri.
Menurut Suyatno (2009:58), problem based instruction adalah suatu proses pembelajaran yang titik awal pembelajaran berdasarkan masalah dalam kehidupan nyata lalu dari masalah ini siswa dirangsang untuk mempelajari masalah berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang telah mereka punyai sebelumnya (prior knowledge) sehingga akan terbentuk pengetahuan dan pengalaman baru.
Menurut Rusman (2014:237), problem based instruction adalah model pembelajaran yang dapat membangkitkan pemahaman siswa terhadap masalah, sebuah kesadaran akan adanya kesenjangan, pengetahuan, keinginan memecahkan masalah, dan adanya persepsi bahwa mereka mampu memecahkan masalah tersebut.
Menurut Purwaningsih (2013:5), problem based instruction dikembangkan untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir, pemecahan masalah dan ketrampilan intelektual, belajar berbagai peran, melalui pengalaman belajar dalam kehidupan nyata.
Jenis-jenis Problem Based Instruction
Menurut Trianto (2009:92), terdapat empat macam pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Instruction), yaitu:
Pembelajaran berdasarkan proyek (Project-Based Instruction), pendekatan pembelajaran yang memperkenankan siswa untuk bekerja mandiri dalam mengkonstruksikannya pembelajarannya.
Pembelajaran berdasarkan pengalaman (Experience-Based Instruction), pendekatan pembelajaran yang memperkenankan siswa melakukan percobaan guna mendapatkan kesimpulan yang benar dan nyata.
Belajar otentik (Authentic Learning), pendekatan pengajaran yang memperkenankan siswa mengembangkan ketrampilan berpikir dan memecahkan masalah yang penting dalam konteks kehidupan nyata.
Pembelajaran bermakna (Anchored Instruction), pendekatan pembelajaran yang mengikuti metodologi sains dan memberi kesempatan untuk pembelajaran bermakna.
Karakteristik Problem Based Instruction
Menurut Trianto (2009:93), ciri-ciri atau karakteristik model pembelajaran berbasis masalah adalah sebagai berikut:
Pengajuan Pertanyaan atau Masalah (memahami masalah). Bukannya mengorganisasikan di sekitar prinsip-prinsip atau keterampilan akademik tertentu, pembelajaran berdasarkan masalah mengorganisasikan pengajaran di sekitar pertanyaan dan masalah yang dua-duanya secara sosial penting dan secara bermakna untuk siswa.
Berfokus pada keterkaitan antar disiplin. Meskipun pembelajaran berbasis masalah mungkin berpusat pada mata pengajaran tertentu (IPA, matematika, dan ilmu-ilmu sosial), masalah yang akan diselidiki telah dipilih benar-benar nyata agar dalam pemecahannya, siswa meninjau masalah itu dari banyak mata pelajaran.
Penyelidikan Autentik. Pembelajaran berbasis mengharuskan siswa melakukan penyelidikan autentik untuk mencari penyelesaian nyata terhadap masalah nyata. Mereka harus menganalisis dan mendefinisikan masalah, mengembangkan hipotesis, melakukan eksperimen (jika diperlukan), membuat inferensi dan merumuskan kesimpulan.
Menghasilkan produk dan memamerkannya. Pembelajaran berbasis masalah menuntut siswa untuk menghasilkan produk tertentu dalam bentuk karya nyata atau artefak dan peragaan yang menjelaskan atau mewakili bentuk penyelesaian masalah yang mereka temukan. Produk tersebut dapat berupa transkrip debat. Produk itu dapat juga berupa laporan, model fisik, video maupun program komputer.
Kolaborasi/kerja sama. Pembelajaran berbasis masalah dicirikan oleh siswa yang bekerja sama satu dengan yang lainnya, paling sering secara berpasangan atau dalam kelompok kecil. Bekerja sama memberikan motivasi untuk secara berkelanjutan terlibat dalam tugas-tugas kompleks dan memperbanyak peluang untuk berbagai inkuiri dan dialog dan untuk mengembangkan keterampilan sosial dan keterampilan berfikir.
Langkah-langkah Problem Based Instruction
Menurut Trianto (2009:98), langkah-langkah atau tahapan pembelajaran menggunakan model problem based instruction adalah sebagai berikut:
Tahap-1 (Orientasi siswa pada masalah). Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan, mengajukan fenomena atau demonstrasi atau cerita untuk memunculkan masalah, memotivasi siswa untuk terlibat dalam pemecahan.
Tahap-2 (Mengorganisasi siswa untuk belajar). Guru membantu siswa untuk mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut.
Tahap-3 (Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok). Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah.
Tahap-4 (Mengembangkan dan menyajikan hasil karya). Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video, dan model serta membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya.
Tahap-5 (Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah). Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.
Kelebihan dan Kekurangan Problem Based Instruction
Model pembelajaran problem based instruction memiliki beberapa kelebihan atau keunggulan sebagai berikut:
Peserta didik dilibatkan pada kegiatan belajar sehingga pengetahuannya benar-benar diserap dengan baik.
Dilatih untuk mandiri dan bekerja sama dengan peserta didik lain.
Berperan aktif dan menuntut keterampilan berfikir peserta didik yang lebih tinggi dalam pembelajaran.
Peserta didik dapat merasakan manfaat pembelajaran matematika sebab masalah yang diselesaikan merupakan masalah sehari-hari.
Dapat mengembangkan cara berfikir logis serta berlatih mengemukakan pendapat.
Sedangkan kelemahan atau kekurangan menggunakan model pembelajaran problem based instruction yaitu:
Untuk peserta didik yang malas, tujuan dari model tersebut tidak akan tercapai.
Membutuhkan banyak waktu.
Menuntut guru membuat perencanaan pembelajaran yang lebih matang.
Daftar Pustaka
Trianto. 2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif - Progresif Konsep, Landasan dan Implementasinya pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: Kencana.
Suyatno. 2009. Menjelajah Pembelajaran Inovatif. Sidoarjo: Masmedia Buana Pusaka.
Rusman. 2014. Model-model Pembelajaran (Mengembangkan Profesionalisme Guru). Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Purwaningsih, Ira. 2013. Model Pembelajaran Problem Based Instruction (PBI) Untuk Meningkatkan Keaktifan Belajar dan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa, Jurnal Pendidikan Geografi. Malang: Universitas Negeri Malang.
https://www.kajianpustaka.com/2018/11/model-pembelajaran-problem-based-instruction.html
Langganan:
Komentar (Atom)
