Senin, 11 April 2022

BAHASA ARAB DASAR AT-TAHNI-AH ( Ucapan Selamat )

 

BAHASA ARAB DASAR   

AT-TAHNI-AH ( Ucapan Selamat )

 

Sebelum mempelajari Bahasa yang mulia ini marilah kita berdo’a kepada Allah semoga Allah mudahkan jalan kita untuk mempelajarinya amiinn.. :)

 

Baik berikut macam2 ucapan selamat dalam Bahasa Arab

 

1.      SHOBAAHUL KHOIR

Artinya : Selamat Pagi

 

Kemudian ada juga yang menggunakan,

 

2.      SHOBAAHUN NUUR

Artinya : Pagi yang cerah / Selamat Pagi

 

3.      NAHAARUN SA’IID

Artinya : Selamat Siang

 

4.      MASAA-UL KHOIR

Artinya : Selamat Sore

 

5.      LAILATUN SA’IIDAH

Artinya : Selamat Malam

 

6.      TUSBIHU ALA KHOIR

Artinya : Selamat Malam

 

Sedikit penjelasan untuk Masaa-ul Khoir biasa diucapkan saat Sore saja namun ada juga yg menggunkannya sebagai arti selamat malam.

 

7.      MARHAABAN

Artinya : Selamat Datang


8.      AHLAN WA SAHLAN

Artinya : Selamat Datang

 

9.      LA’ALLAKA TANJAH

Artinya : Semoga Berhasil / Semoga Sukses

 

10.  MA’AS SALAAMAH

Artinya : Selamat Tinggal

 

Sekian yang bisa penulis sampaikan, semoga bermanfaat, Wassalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh. LA’ALLAKA TANJAH J

 

Senin, 16 Maret 2020

Ringkasan Materi Paikem , Problem Posing & Open Ended

RINGKASAN MATERI 1 ,2 & 3
Disusun Oleh ;
Moch Robbis Salam/ 1884202018
Pend Matematika STKIP PGRI SIDOARJO

PENGERTIAN PAIKEM

PAIKEM merupakan singkatan dari Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif,dan Menyenangkan.
PAIKEM dapat didefinisikan sebagai pendekatan mengajar (approach to teaching) yang digunakan bersama metode tertentu dan berbagai media pengajaran yang disertai penataan lingkungan sedemikian rupa agar proses pembelajaran menjadi aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.

Menurut Muhibbin Syah ( 2009:13-34) PAIKEM dijabarkan sebagai berikut :
1. Pembelajaran Aktif
2. Pembelajaran Inovatif
3. Pembelajaran Kreatif
4. Pembelajaran Efektif
5. Pembelajaran Menyenangkan

1. Pembelajaran Aktif
Pembelajaran yang aktif berarti pembelajaran yang memerlukan keaktifan semua siswa dan guru secara fisik, mental, emosional, bahkan moral dan spiritual.

2. Pembelajaran Inovatif
Pembelajaran inovatif dapat diartikan sebagai pembelajaran yang dirancang oleh guru, yang sifatnya baru.

3. Pembelajaran Kreatif
Pembelajaran kreatif dapat diartikan sebagai pembelajaran yang memberikan variasi.

4. Pembelajaran Efektif
Pembelajaran efektif dapat diartikan sebagai tercapainya sasaran atau minimal mencapai kompetensi dasar yang telah ditetapkan.

5. Pembelajaran Menyenangkan
Pembelajaran menyenangkan diartikan sebagai suasana belajar mengajar yang hidup, semarak, terkondisi untuk terus berlanjut, ekspresif dan mendorong pemusatan perhatian perserta didik terhadap belajar.


KARAKTERISTIK PAIKEM

Sebagai pendekatan pembelajaran PAIKEM memiliki karakteristik sebagai berikut :
1. Berpusat pada siswa (student-centered ).
2. Belajar yang menyenangkan (joyfull learning).
3. Belajar yang berorientasi pada tercapainya kemampuan tertentu (competencybased learning).
4. Belajar secara tuntas (mastery learning).
5. Belajar secara berkesinambungan (continuous learning).
6. Belajar sesuai dengan ke-kini-an dan kedisini-an (contextual learning).


SINTAKS atau Langkah-langkah PAIKEM

Fase 1 (Pendahuluan)
1.Mengaitkan pelajaran dengan pelajaran sebelumnya
2. Memotivasi siswa
3. Memberikan pertanyaan kepada siswa untuk mengetahui konsep-konsep prasyarat yang sudah dikuasai siswa
4. Menjelaskan tujuan pembelajaran.

Fase 2 (presentasi materi konsep-konsep yang harus dikuasai oleh siswa melalui demonstrasi dan bahan bacaan)
1. Presentasi keterampilan proses yang dikembangkan
2. Presentasi alat dan bahan yang dibutuhkan melalui bagan
3. Memodelkan penggunaan peralatan melalui bagan.

Fase 3 (membimbing pelatihan)
1. Menempatkan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar
2. Mengingatkan cara siswa bekerja dan berdiskusi secara kelompok
3. Membagi buku siswa dan lks
4. Mengingatkan cara menyususn laporan hasil kegiatan
5. Memberikan bimbingan seperlunya
6. Mengumpulkan hasil kerja kelompok setelah batas waktu ditentukan.

Fase 4 (menelaah pemahaman dan memberikan umpan balik)
1. Mempersiapkan kelompok belajar untuk diskusi kelas
2. Meminta salah satu anggota kelompok untuk
mempresentasikan hasil kegiatan sesuai dengan lks yang telah dikerjakan
3. Meminta anggota kelompok lain menanggapi hasil presentasi
4. Membimbing siswa menyimpulkan hasil diskusi.

Fase 5 (mengembangkan dengan memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjut dan penerapan)
1. Mengecek dan memberikan umpan balik terhadap tugas yang diberikan
2. Membimbing siswa menyimpulkan seluruh materi pembelajaran yang baru saja dipelajari
3. Memberikan tugas rumah.

Fase 6 (Menganalisa dan mengevaluasi)
1. guru membantu siswa untuk melakukan refleksi
2. Guru mengevaluasi kinerja siswanya.


METODE

Pembelajaran PAIKEM ini bisa menggunakan berbagai macam metode. Contoh Metode yang diterapkan oleh kelompok 1 adalah ;
1. Everyone is a teacher here (setiap murid sebagai guru)
Strategi ini sangat tepat untuk mendapatkan partisipasi kelas secara
keseluruhan dan secara individual. Strategi ini memberikan kesempatan
kepada siswa untuk berperan sebagai guru bagi kawan-kawannya.
Langkah-langkah:
1) Bagikan secarik kertas kepada seluruh siswa. Setiap siswa diminta
untuk menuliskan satu pertanyaan tentang materi pelajaran yang
sedang dipelajari di kelas.
2) Kumpulkan kertas, acak kertas tersebut kemudian bagikan kepada
setiap siswa. Pastikan bahwa tidak ada siswa yang menerima soal
yang ditulis sendiri. Minta mereka untuk membaca dalam hati
pertanyaan dalam kertas tersebut kemudian memikirkan jawabannya.
3) Minta siswa secara sukarela untuk membacakan pertanyaan tersebut
dan menjawabnya.
4) Setelah jawaban diberikan, mintalah siswa lainnya untuk
menambahkan.
5) Lanjutkan dengan sukarelawan berikutnya.


KELEBIHAN dan KEKURANGAN PAIKEM
Kelebihan PAIKEM
1. Mengalami
Peserta didik terlibat secara aktif baik fisik, mental maupun emosional.

2. Komunikasi
Kegiatan pembelajaran memungkinkan terjadinya komunikasi antara guru dan peserta didik.
3. Interaksi
Kegiatan pembelajarannya memungkinkan terjadinya interaksi multi arah.
4. Refleksi
Kegiatan pembelajaran yang memungkinkan peserta didik memikirkan kembali  apa yang telah dilakukan.

Kelemahan PAIKEM
1. Membutuhkan dana, dalam pembelajaran PAIKEM sering kita memakai media sehingga membutuhkan biaya yang lebih untuk menunjang proses pembelajaran.
2. Pengembangan RPP, dalam pembelajaran PAIKEM guru dituntut untuk kerja extra dalam pengembangan pembuatan RPP agar dapat menciptakan pembelajaran yang diinginkan.
3. Manajemen kelas, dalam pembelajaran ini guru harus selalu dapat menciptakan suasana kelas yang kondusif dan menyenangkan.
4. Kurangnya kreatifitas guru, dalam pembelajaran PAIKEM guru cenderung malas untuk melalkukan pembelajaran yang inovatif.



PENGERTIAN Model Pembelajaran Problem Posing

Problem posing merupakan istilah dalam bahasa inggris yang berasal dari kata “Problem” yang memiliki arti masalah, soal, atau persoalan, dan kata “to pose” yang artinya mengajukan. Sehingga Problem posing diartikan sebagai pengajuan soal atau pengajuan masalah.

Pada prinsipnya, model pembelajaran problem posing adalah suatu model pembelajaran yang mewajibkan para siswa untuk mengajukan soal sendiri melalui belajar soal (berlatih soal) secara mandiri.

Sehingga, dapat disimpulkan bahwa model problem posing adalah model pembelajaran yang mewajibkan siswa belajar melalui pengajuan soal dan pengerjaan soal secara mandiri tanpa bantuan guru.


KARAKTERISTIK MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM POSING

Pembelajaran problem posing memiliki ciri-ciri sebagai berikut ;
1. Pendidik  menjadi rekan peserta didik yang melibatkan diri dan menstimulasi daya  pemikiran kritis peserta didiknya serta mereka saling memanusiakan.
2. Pendidik dan peserta didik dapat mengembangkan kemampuannya untuk mengerti secara kritis dirinya dan dunia tempat ia berada.
3. Pembelajaran problem posing senantiasa membuka rahasia realita yang menantang kemudian menuntut suatu tanggapan terhadap tantangan tersebut.


Jenis / Tipe Model Pembelajaran Problem Posing

1) Problem Posing tipe Pre Solution Posing
yaitu perumusan soal yang berkaitan dengan syarat-syarat pada soal yang dipecahkan dalam rangka mencari alternatif pemecahan lain.
2) Problem posing tipe Within Solution Posing
yaitu perumusan soal sederhana atau perumusan ulang soal yang ada dengan beberapa perubahan agar lebih sederhana dan dapat dipahami dalam rangka memecahkan soal yang rumit. Siswa diminta merumuskan kembali soal yang telah diberikan melalui tahapan-tahapan/langkah-langkah tertentu sehingga soal yang diberikan menjadi lebih sederhana.
3) Problem Posing tipe Post Solution Posing
yaitu merumuskan atau membuat soal sejenis dari situasi yang diberikan. Siswa akan dilatih kemampuannya untuk menyusun soal sendiri, selanjutnya soal atau permasalahan tersebut diselesaikan sendiri sesuai dengan contoh-contoh yang diberikan oleh guru.


SINTAKS atau Langkah-langkah Model Pembelajaran Problem Posing

Amri (2013 :13) menyatakan bahwa langkah-langkah model pembelajaran problem posing yaitu :
1. Guru menjelaskan materi pelajaran, alat peraga yang disarankan
2. Guru Memberikan latihan soal secukupnya.
3. Siswa mengajukan soal yang menantang dan dapat menyelesaikan. Ini dilakukan dengan kelompok.
4. Pertemuan berikutnya guru meminta peserta didik menyajikan soal di depan kelas.
5.  Guru memberikan tugas rumah secara individual.


Model Pembelajaran Problem Posing Dalam Pembelajaran Matematika

Model pembelajaran problem posing dalam pembelajaran matematika dibutuhkan keterampilan sebagai berikut :
1. Menggunakan strategi pengajuan soal untuk menginvestigasi dan memecahkan masalah yang diajukan.
2. Memecahkan masalah dari situasi matematika dari kehidupan sehari-hari.
3. Menggunakan sebuah pendekatan yang tepat untuk mengemukakan masalah pada situasi matematika.
4. Mengenali hubungan antara materi-materi yang berbeda dalam matematika.
5.Mempersiapkan solusi dan strategi terhadap situasi masalah baru.
6. Mengajukan masalah yang kompleks dan juga masalah yang sederhana.
7. Menggunakan penerapan subjek yang berbeda dalam mengajukan masalah matematika.


KELEBIHAN dan KEKURANGAN Model Pembelajaran Problem Posing
Kelebihan Model Pembelajaran Problem Posing;
1. Siswa aktif dalam kegiatan pembelajaran.
2. Minat yang positif terhadap materi pembelajaran.
3. Membantu siswa untuk melihat permasalahan yang ada sehingga meningkatkan kemampuan menyelesaikan masalah.
4. Memunculkan ide yang kreatif dalam mengajukan soal.
5. Mengetahui proses bagaimana cara siswa memecahkan masalah.

Kekurangan Model Pembelajaran Problem Posing;
1. Pembelajaran model problem posing membutuhkan waktu yang lama.
2. Agar pelaksanaan kegiatan dalam membuat soal dapat dilakukan dengan baik perlu ditunjang oleh buku-buku yang dapat dijadikan pemahaman dalam kegiatan belajar terutama membuat soal.



PENGERTIAN Pendekatan Open Ended

Pendekatan Open Ended merupakan sebuah pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah terbuka,dimana satu masalah memiliki banyak solusi atau banyak cara penyelesaian.
Pendekatan ini memberi kesempatan kepada siswa untuk berpikir bebas sesuai dengan minat dan kemampuannya. Dengan demikian kemampuan berpikir matematis siswa dapat berkembang secara maksimal dan kegiatan-kegiatan kreatif siswa dapat terkomunikasikan melalui proses pembelajaran.


PRINSIP Pendekatan Open Ended

Pendekatan Open Ended prinsipnya sama dengan pembelajaran berbasis masalah yaitu pendekatan pembelajaran yang didalam prosesnya dimulai dengan memberi suatu masalah kepada peserta didik. Bedanya, problem yang disajikan memiliki jawaban benar lebih dari satu.
Contoh penerapan Problem Open Ended dalam kegiatan pembelajaran adalah ketika peserta didik diminta mengembangkan pendekatan,cara,atau pendekatan yang berbeda dalam menjawab permasalahan yang diberikan.


Problema yang Didapat dari Pendekatan Open Ended

Pembelajaran dengan pendekatan open ended diawali dengan memberikan masalah terbuka kepada siswa. Kegiatan pembelajaran harus mengarah dan membawa siswa dalam menjawab masalah dengan banyak cara juga dengan banyak jawaban yang benar,sehingga merangsang kemampuan intelektual dan pengalaman siswa dalam proses menemukan sesuatu yang baru.
Contoh ; Pada suatu kompetisi sepak bola,komisi pertandingan mencatat jumlah penjualan tiket penonton. Pada pertandingan hari kamis tiket penonton terjual 2457 lembar, pada hari sabtu dan minggu berturut-turut terjual 3169 lembar dan 4852 lembar. Hitunglah jumlah tiket yang terjual dari tiga kali pertandingan tersebut !

Tujuannya adalah untuk membantu mengembangkan kegiatan kreatif dan pola pikir matematik siswa semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan setiap siswa.


Menyusun Rencana Pendekatan Open Ended

Pada tahap ini hal-hal yang harus diperhatikan dalam mengembangkan rencana pembelajaran yang baik adalah sebagai berikut
1. Tuliskan respon siswa yang diharapkan. siswa diharapkan merespon masalah dengan berbagai cara sudut pandang. Oleh karena itu guru harus menyiapkan atau menuliskan daftar antisipasi respon siswa terhadap masalah.
2. Tujuan dari masalah itu diberikan kepada siswa harus jelas. Guru memahami dengan baik peranan masalah itu dalam keseluruhan rencana pembelajaran.
3. Sajikan masalah semenarik mungkin bagi siswa. Konteks permasalahan yang diberikan atau disajikan harus dapat dikenal baik oleh siswa dan harus membangkitkan keingintahuan serta semangat intelektual siswa.
4. Berikan waktu yang cukup bagi siswa untuk mengeksplorasi masalah. Guru harus memberi waktu yang cukup kepada siswa untuk mengeksplorasi masalah.



SINTAKS atau Langkah-langkah Pendekatan Open Ended

a. Kegiatan Awal
1. Guru melakukan tanya jawab unutk mengecek pengetahuan prasyaratdan keterampilan yang dimiliki siswa (apersepsi).
2. Guru menginformasikan kepada siswa materi yang akan mereka pelajari, dan kegunaan materi tersebu (motivasi).

b. Kegiatan Inti
1. Memberikan masalah, guru memberikan masalah open ended yang berkaitan dengan materi yang diajarkan sehingga siswa dapat memahaminya dan menemukan pendekatan penyelesaiannya.
2. Mengeksplorasi masalah, waktu mengeksplorasi masalah dibagi dala dua sesi.
3. Merekam respon siswa.
4. Guru mencatat respon siswa.
5. Meringkas apa yang dipelajari.

c. Kegiatan Akhir
1. Guru meluruskan misskonsepsi yang terjadi (jika ada).
2. Guru memberikan perluasan wawasan bagi siswa terkait dengan konsep yang baru saja didiskusikan.
3. Guru memberikan soal-soal atau tugas untuk dikerjakan dirumah.
4. Guru memberikan informasi tentang materi yang akan dipelajari pada pertemuan berikutnya.

KELEBIHAN dan KEKURANGAN Pendekatan Open Ended
Kelebihan Pendekatan Open Ended
1. Siswa berpasitipasi lebih aktif dalam pembelajaran dan sering mengekspresikan idenya.
2. Siswa memiliki kesempatan lebih banyak dalam memanfaatkan pengetahuan dan ketrampilan matematik secara komprehensif.
3. Siswa dengan kemampuan matematika rendah dapat merespon permasalahan dengan cara mereka sendiri.
4. Siswa secara intrinsik termotivasi untuk memberikan bukti atau penjelasan.
5. Siswa memiliki pengalaman banyak untuk menemukan sesuatu dalam menjawab permasalahan.

Kelemahan Pendekatan Open Ended
1. Mengemukakan masalah yang langsung dapat dipahami siswa sangat sulit sehingga banyak siswa yang mengalami kesulitan bagaimana merespon permasalahan yang diberikan.
2. Siswa dengan kemampuan tinggi bisa merasa ragu atau mencemaskan jawaban mereka.
3. Sebagian siswa yang merasa bahwa kegiatan belajar mereka tidak menyenangkan karena kesulitan yang mereka hadapi.

Rabu, 01 Januari 2020

MAKALAH PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE PBI KEL.3

MAKALAH

STRATEGI BELAJAR MENGAJAR





Disusun oleh :
M.Mawahibus shomad
Aprilliya utari
Conie francies enus
Moch Robbis Salam



DAFTAR ISI



Pengertian Problem based      instruction..........................................................................................................

Jenis-jenis problam based instruction.........................................................................................................

Karakteristik problem based instruction..........................................................

Langkah-langkah problem based instruction....................................................

Kelebihan dan kekurangan................................................................................


















PROBLEM BASED INSTRUCTION

Problem based instruction (PBI) atau pembelajaran berdasarkan masalah (PBM) adalah suatu model pembelajaran yang menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengembangkan pengetahuan baru bagi siswa melalui proses kerja kelompok yang membutuhkan penyelesaian nyata sehingga membuat siswa berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran.
Model pembelajaran berbasis masalah berpusat pada kegiatan siswa. Dalam proses pembelajaran, guru bertindak sebagai fasilitator sedangkan siswa yang dituntut untuk lebih aktif dalam bertanya, menjawab, berpendapat, menyanggah pendapat, dan sebagainya.

Pembelajaran berdasarkan masalah merupakan pendekatan yang efektif untuk pengajaran proses berpikir tingkat tinggi. Pembelajaran ini membantu siswa untuk memproses informasi yang sudah jadi dalam benaknya dan menyusun pengetahuan mereka sendiri tentang dunia sosial dan sekitarnya.

Berikut ini beberapa pengertian dan definisi model pembelajaran problem based instruction dari beberapa sumber buku:

Menurut Trianto (2009:92), problem based instruction merupakan suatu pendekatan pembelajaran dimana peserta didik mengerjakan permasalahan yang autentik dengan maksud untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan inkuiri dan keterampilan berpikir tingkat lebih tinggi, mengembangkan kemandirian dan percaya diri.
Menurut Suyatno (2009:58), problem based instruction adalah suatu proses pembelajaran yang titik awal pembelajaran berdasarkan masalah dalam kehidupan nyata lalu dari masalah ini siswa dirangsang untuk mempelajari masalah berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang telah mereka punyai sebelumnya (prior knowledge) sehingga akan terbentuk pengetahuan dan pengalaman baru.
Menurut Rusman (2014:237), problem based instruction adalah model pembelajaran yang dapat membangkitkan pemahaman siswa terhadap masalah, sebuah kesadaran akan adanya kesenjangan, pengetahuan, keinginan memecahkan masalah, dan adanya persepsi bahwa mereka mampu memecahkan masalah tersebut.
Menurut Purwaningsih (2013:5), problem based instruction dikembangkan untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir, pemecahan masalah dan ketrampilan intelektual, belajar berbagai peran, melalui pengalaman belajar dalam kehidupan nyata.


Jenis-jenis Problem Based Instruction
Menurut Trianto (2009:92), terdapat empat macam pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Instruction), yaitu:
Pembelajaran berdasarkan proyek (Project-Based Instruction), pendekatan pembelajaran yang memperkenankan siswa untuk bekerja mandiri dalam mengkonstruksikannya pembelajarannya.
Pembelajaran berdasarkan pengalaman (Experience-Based Instruction), pendekatan pembelajaran yang memperkenankan siswa melakukan percobaan guna mendapatkan kesimpulan yang benar dan nyata.
Belajar otentik (Authentic Learning), pendekatan pengajaran yang memperkenankan siswa mengembangkan ketrampilan berpikir dan memecahkan masalah yang penting dalam konteks kehidupan nyata.
Pembelajaran bermakna (Anchored Instruction), pendekatan pembelajaran yang mengikuti metodologi sains dan memberi kesempatan untuk pembelajaran bermakna.


Karakteristik Problem Based Instruction
Menurut Trianto (2009:93), ciri-ciri atau karakteristik model pembelajaran berbasis masalah adalah sebagai berikut:

Pengajuan Pertanyaan atau Masalah (memahami masalah). Bukannya mengorganisasikan di sekitar prinsip-prinsip atau keterampilan akademik tertentu, pembelajaran berdasarkan masalah mengorganisasikan pengajaran di sekitar pertanyaan dan masalah yang dua-duanya secara sosial penting dan secara bermakna untuk siswa.
Berfokus pada keterkaitan antar disiplin. Meskipun pembelajaran berbasis masalah mungkin berpusat pada mata pengajaran tertentu (IPA, matematika, dan ilmu-ilmu sosial), masalah yang akan diselidiki telah dipilih benar-benar nyata agar dalam pemecahannya, siswa meninjau masalah itu dari banyak mata pelajaran.
Penyelidikan Autentik. Pembelajaran berbasis mengharuskan siswa melakukan penyelidikan autentik untuk mencari penyelesaian nyata terhadap masalah nyata. Mereka harus menganalisis dan mendefinisikan masalah, mengembangkan hipotesis, melakukan eksperimen (jika diperlukan), membuat inferensi dan merumuskan kesimpulan.
Menghasilkan produk dan memamerkannya. Pembelajaran berbasis masalah menuntut siswa untuk menghasilkan produk tertentu dalam bentuk karya nyata atau artefak dan peragaan yang menjelaskan atau mewakili bentuk penyelesaian masalah yang mereka temukan. Produk tersebut dapat berupa transkrip debat. Produk itu dapat juga berupa laporan, model fisik, video maupun program komputer.
Kolaborasi/kerja sama. Pembelajaran berbasis masalah dicirikan oleh siswa yang bekerja sama satu dengan yang lainnya, paling sering secara berpasangan atau dalam kelompok kecil. Bekerja sama memberikan motivasi untuk secara berkelanjutan terlibat dalam tugas-tugas kompleks dan memperbanyak peluang untuk berbagai inkuiri dan dialog dan untuk mengembangkan keterampilan sosial dan keterampilan berfikir.

Langkah-langkah Problem Based Instruction
Menurut Trianto (2009:98), langkah-langkah atau tahapan pembelajaran menggunakan model problem based instruction adalah sebagai berikut:
Tahap-1 (Orientasi siswa pada masalah). Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan, mengajukan fenomena atau demonstrasi atau cerita untuk memunculkan masalah, memotivasi siswa untuk terlibat dalam pemecahan.
Tahap-2 (Mengorganisasi siswa untuk belajar). Guru membantu siswa untuk mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut.
Tahap-3 (Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok). Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah.
Tahap-4 (Mengembangkan dan menyajikan hasil karya). Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video, dan model serta membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya.
Tahap-5 (Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah). Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.



Kelebihan dan Kekurangan Problem Based Instruction
Model pembelajaran problem based instruction memiliki beberapa kelebihan atau keunggulan sebagai berikut:

Peserta didik dilibatkan pada kegiatan belajar sehingga pengetahuannya benar-benar diserap dengan baik.
Dilatih untuk mandiri dan bekerja sama dengan peserta didik lain.
Berperan aktif dan menuntut keterampilan berfikir peserta didik yang lebih tinggi dalam pembelajaran.
Peserta didik dapat merasakan manfaat pembelajaran matematika sebab masalah yang diselesaikan merupakan masalah sehari-hari.
Dapat mengembangkan cara berfikir logis serta berlatih mengemukakan pendapat.

Sedangkan kelemahan atau kekurangan menggunakan model pembelajaran problem based instruction yaitu:

Untuk peserta didik yang malas, tujuan dari model tersebut tidak akan tercapai.
Membutuhkan banyak waktu.
Menuntut guru membuat perencanaan pembelajaran yang lebih matang.


Daftar Pustaka
Trianto. 2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif - Progresif Konsep, Landasan dan Implementasinya pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: Kencana.
Suyatno. 2009. Menjelajah Pembelajaran Inovatif. Sidoarjo: Masmedia Buana Pusaka.
Rusman. 2014. Model-model Pembelajaran (Mengembangkan Profesionalisme Guru). Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Purwaningsih, Ira. 2013. Model Pembelajaran Problem Based Instruction (PBI) Untuk Meningkatkan Keaktifan Belajar dan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa, Jurnal Pendidikan Geografi. Malang: Universitas Negeri Malang.
https://www.kajianpustaka.com/2018/11/model-pembelajaran-problem-based-instruction.html

Pembelajaran Kooperatif TGT Kel.2


Minggu, 27 Oktober 2019

MAKALAH PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW KEL.3

MAKALAH
PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW



DOSEN PEMBIMBING
Siti Nuriyatin S.Pd M.Pd
DISUSUN OLEH
Aprilliya Utari
M. Mawahibus Shomad
M. Robbis S.
Chonie
STKIP PGRI SIDOARJO
PRODI PENDIDIKAN MATEMATIKA (2018 A)
2018/2019

DAFTAR ISI



PENDAHULUAN
Latar Belakang
Falsafah yang mendasari pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dalam pendidikan ialah “homo homoni socius” (pembelajaran gotong-royong) yang menekankan bahwa manusia adalah makhluk social. Pembelajaran kooperatif terutama tipe jigsaw dianggap sangat cocok di terapkan di Indonesia karena sesuai dengan budaya Indonesia yang menjunjung tinggi nilai gotong royong.
Model pembelajaran jigsaw adalah suatu tehnik pembelajaran kooperatiff dimana siswa, bukan guru yang memiliki tanggung jawab lebih besar dalam pelaksanaan pembelajaran. Adapun tujuan dari model pembelajaran jigsaw ini mengembangkan kerja tim, ketrampilan belajar kooperatif, serta  menguasai pengetahuan secara mendalam yang tidak mungkin diperoleh bila  mereka mencoba untuk mempelajari semua materi secara sendirian.
Menurut Anita Lie dalam bukunya “Cooperative Learning Teknik Jigsaw” bahwa metode pembelajaran koopertif teknik jigsaw tidak sama dengan sekadar belajar kelompok, tetapi ada unsure-unsur dasar yang membedakannya dengan pembagian kelompok yang dilakukan asal-asalan. Roger dan David Johnson mangatakan bahwa tidak semua kerja kelompok bisa dianggap cooperative learning teknik jigsaw.
 Rumusan Masalah
Terdapat beberapa masalah yang akan kami bahas dalam makalah ini
Apa yang dimaksud dengan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw?
Bagaimana langkah-langkah metode jigsaw?
Apa saja kekurangan dan kelebihan dari metode jigsaw?









PEMBAHASAN
 
Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw
Jigsaw adalah tipe pembelajaran kooperatif yang dikembangkan oleh Elliot Aronson’s, (Aronson, Blaney, Stephen, Sikes, and SNAPP, 1978). Model pembelajaran ini didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut kepada kelompoknya. Sehingga baik kemampuan secara kognitif maupun social siswa sangat diperlukan. Model pembelajaran Jigsaw ini diladasi oleh teori belajar humanistic, karena teori belajar humanistic menjelaskan bahwa pada hakekatnya setiap manusia adalah unik, memiliki potensi individual dan dorongan internal untuk berkembang dan menentukan perilakunya.
          Tom Savage (1987:25) mengemukakan bahwa cooperative learning merupakan satu pendekatan yang menekankan kerja sama dalam kelompok. Pembelajaran kooperatif adalah stategi pembelajaran yang melibatkan partisipasi siswa dalam suatu kelompok kecil untuk saling berinteraksi. Dalam sistem belajar kooperatif siswa belajar bekerja bersama anggota lainnya.
Model pemebelajaran kooperatif model jigsaw adalah sebuah model belajar kooperatif yang menitik beratkan kepada kerja kelompok siswa dalam bentuk kelompok kecil, seperti yang diungkapkan Lie ( 1993: 73), bahwa pembelajaran kooperatif model jigsaw ini merupakan model belajar kooperatif dengan cara siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri atas empat sampai dengan enam orang secara heterogen dan siswa bekerja sama salaing ketergantungan positif dan bertanggung jawab secara mandiri.
Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah suatu tipe pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar dan mampu mengajarkan materi tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya (Arends, 1997 ). Model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw merupaka tipe model pembelajaran kooperatif dimana siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4 – 6 orang secara heterogen dan bekerjasama saling ketergantungan yang positif dan bertanggung jawab atas ketuntasan bagian materi pelajaran yang harus dipelajari dan menyampaikan materi tersebut kapada kelompok yang lain (Arends, 1997).
Ibrahim (2001:21) jigsaw telah dikembangkan dan diuji cobakan oleh Ellot Aronson dan kemudian diadaptasi oleh slavin. Dalam penerapan jigsaw, siswa dibagi berkelompok dengan lima atau enam anggota kelompok belajar heterogen. Setiap anggota bertanggung jawab untuk mempelajari, menguasai bagian tertentu bahan yang diberikan kemudian menjelaskan pada anggota kelompoknya. Dengan demikian terdapat rasa saling membutuhkan dan harus bekerjasama secara kooperatif untuk mempelajari materi yang ditugaskan. Para anggota dari kelompok lain yang bertugas mendapat topik yang sama berkumpul dan berdiskusi tentang topik tersebut. Kelompok ini disebut kelompok ahli. Kemudian anggota tim ahli kembali ke kelompok asal dan mengajarkan apa yang telah dipelajarinya dan didiskusikan didalam klompok ahlinya untuk diajarkan kepada teman kelompoknya sendiri.


Teknik mengajar Jigsaw sebagain metode pembelajaran kooperatif bisa digunakan dalam pengakaran membaca, menulis, mendengarkan ataupun berbicara. Teknik ini menggabungkan kegiatan membaca, menulis, mendengarkan dan berbicara sehingga dapat digunakan dalam beberapa mata pelajaran, seperi ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan social, matematika, agama, dan bahasa. Teknik ini cocok untuk semua kelas/ tingkatan.


Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw merupakan model pembelajaran kooperatif, siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4-5 orang dengan memperhatikan keheterogenan, bekerjasama positif dan setiap anggota bertanggung jawab untuk mempelajari masalah tertentu dari materi yang diberikan dan menyampaikan materi tersebut kepada anggota kelompok yang lain.
Dalam model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, terdapat kelompok ahli dan kelompok asal. Kelompok asal adalah kelompok awal siswa terdiri dari berapa anggota kelompok ahli yang dibentuk dengan memperhatikan keragaman dan latar belakang. Sedangkan kelompok ahli, yaitu kelompok siswa yang terdiri dari anggota kelompok lain (kelompok asal) yang ditugaskan untuk mendalami topik tertentu untuk kemudian dijelaskan kepada anggota kelompok asal.


Disini, peran guru adalah memfasilitasi dan memotivasi para anggota kelompok ahli agar mudah untuk memahami materi yang diberikan.
Kunci tipe Jigsaw ini adalah interdependence setiap siswa terhadap anggota tim yang memberikan informasi yang diperlukan. Artinya para siswa harus memiliki tanggunga jawab dan kerja sama yang positif dan saling ketergantungan untuk mendapatkan informasi dan memecahkan masalah yang diberikan.


LANDASAN TEORI
Salah satu model pembelajaran yang dapat membuat peserta didik aktif dan dapat dijadikan acuan pengajaran keterampilan di kelas adalah model pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran kooperatif adalah model yang sering digunakan dalam kegiatan pembelajaran, karena selain hemat waktu, juga efektif, apalagi jika metode yang diterapkan sangat memadai untuk perkembangan siswa.
Teori yang melandasi pembelajaran kooperatif jigsaw adalah teori konstruktivisme. Pada dasarnya pendekatan teori konstruktifisme dalam belajar adalah suatu pendekatan di mana sisiwa secara individu menemukan dan mentranseformasikan imformasi yang kompleks, memeriksa imformasi dengan aturan yang dan merivisinya bila perlu. Menurut Slavin, pembelajaran kooperatif menggalakkan siswa berinteraksi secara aktif dan positif dalam kelompok. Ini membolehkan poertukaran ide dan pemeriksaaan ide sendiri dalam suasana yang tidak terancam, sesuai dengan falsafah konstruktivisme. Dengan demikian, pendidikan hendaknya mampu mengondisikan dan memberikan dorongan untuk dapat mengoptimalkan dan membangkitkan potensi siswa, menumbuhkan aktivitas dan daya cipta kreativitas sehingga akan menjamin terjadinya dinamika di dalam proses pembelajaran.
Dalam teori konstruktivisme ini lebih mengutamakan pada pembelajaran siswa yang dihadapkan masalah-masalah komplek untuk di cari solusinya, selanjutnya menemukan bagian-bagian yang lebih sederhana dan keterampilan yang diharapkan. Model pembelajaran ini dikembangkan dari teori belajar konstruktivisme yang lahir dari gagasan Piaget dan Vygotsky. Berdasarkan penelitian Piaget yang pertama dikemukakan bahwa pengetahuan itu dibangun dalam pikiran anak.
Dalam model pemebelajaran kooperatif guru berpesan sebagai fasilitator yang berfungsi sebagai jembatan penghubungan ke arah pemahaman yang lebih tinggi, dengan catatan siswa sendiri. Guru tidak hanya memberikan pengetahuan pada siswa, tetapi harus juga membangun dalam pikirannya. Siswa mempunyai kesempatan untuk mendapatkan pengetahuan langsung dalam menerapkan ide-ide mereka, ini merupakan kesempatan bagi siswa untuk menemukan dan menerapkan ide-ide mereka sendiri.
Piaget dan Vygotsky mengemukakan adanya hakikat sosial dari sebuah proses belajar dan penggunaan kelompok-kelompok belajar dengan kemampuan anggota-anggotanya yang beragam sehingga terjadi perubahan konseptual. Piaget menekankan bahwa belajar adalah sebuah proses aktif dan pengetahuan disusun dalam pemikiran siswa. Oleh karena itu, belajar adalah tindakan kreatif di mana konsep dan kesan dibentuk dengan memikirkan objek dan peristiwa serta beraksi dengan objek dan peristiwa tersebut.
Di samping aktivitas dan kreativitas yang diharapkan dalam sebuah proses pembelajaran, dituntut interaksi yang seimbang. Interaksi yang dimaksud adalah adanya interaksi atau komunikasi antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa. Dalam Interaksi guru dengan siswa dalam proses belajar diharapkan terdapat komunikasi banyak arah yang memungkinkan yang memungkinkan akan terjadi aktivitas dan kreativitas yang diharapkan.
Pandangan konstruktivitasme Piaget dan Vygotsky dapat berjalan berdampingan dalam proses pembelajaran konstruktivisme. Piaget yang menekankan pada kegiatan internal individu terhadap objek yang dihadapi dan pengalaman yang dimiliki orang tersebut, sedangkan konstruktivisme Vygotsky menekankan pada interaksi sosial dan melakukan konstruksi pengetahuan dari lingkungan sosialnya.
Berkaitan dengan karya Vygotsky dan penjelasan Piaget, para konstruktivis menekankan pentingnya interaksi dengan teman sebaya melalui pembentukan kelompok belajar, siswa diberikan kesempatan secara aktif untuk mengungkapkan sesuatu yang dipikirkan kepada temannya, Hal itu akan membantunya untuk melihat sesuatu dengan jelas, bahkan melihat ketidaksesuaian pandangan mareka sendiri.






Langkah-langkah Model Pembelajaran Jigsaw

Langkah-langkah kegiatan pembelajaran dengan Model Pembelajaran tipe Jigsaw adalah sebagai berikut:
Membentuk kelompok heterogen yang beranggotakan 4 – 6 orang
Tiap orang dalam kelompok diberi sub topik yang berbeda.
Setiap kelompok membaca dan mendiskusikan sub topik masing-masing dan menetapkan anggota ahli yang akan bergabung dalam kelompok ahli.
 Anggota ahli dari masing-masing kelompok berkumpul dan mengintegrasikan semua sub topik yang telah dibagikan sesuai dengan banyaknya kelompok.
Kelompok ahli berdiskusi untuk membahas topik yang diberikan dan saling membantu untuk menguasai topik tersebut.
Setelah memahami materi, kelompok ahli menyebar dan kembali ke kelompok masing-masing, kemudian menjelaskan materi kepada rekan kelompoknya.
Tiap kelompok memperesentasikan hasil diskusi.
Guru memberikan tes individual pada akhir pembelajaran tentang materi yang telah didiskusikan.
Siswa mengerjakan tes individual atau kelompok yang mencakup semua topik.

Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Jigsaw
Bila dibandingkan dengan metode pembelajaran tradisional, model pembelajaran Jigsaw memiliki beberapa kelebihan yaitu:
Mempermudah pekerjaan guru dalam mengajar, karena sudah ada kelompok ahli yang bertugas menjelaskan materi kepada rekan-rekannya.
Pemerataan penguasaan materi dapat dicapai dalam waktu yang lebih singkat
Metode pembelajaran ini dapat melatih siswa untuk lebih aktif dalam berbicara dan berpendapat.





Beberapa hal yang bisa menjadi kelemahan aplikasi model ini di lapangan, menurut Roy Killen, 1996, adalah :
Prinsip utama pembelajaran ini adalah ‘peer teaching’, pembelajran oleh teman sendiri, ini akan menjadi kendala karena perbedaan persepsi dalam memahami konsep yang akan diskusikan bersama siswa lain.
Apabila siswa tidak memiliki rasa percaya diri dalam berdiskusi menyampaikan materi pada teman.
Rekod siswa tentang nilai, kepribadian, perhatian siswa harus sudah dimiliki oleh guru dan biasanya butuh waktu yang sangat lama untuk mengenali tipe-tipe siswa dalam kelas tersebut.
Butuh waktu yang cukup dan persiapan yang matang sebelum model pembelajaran ini bisa berjalan dengan baik.
Aplikasi metode ini pada kelas yang lebih besar (lebih dari 40 siswa) sangatlah sulit.
Dalam penerapannya sering dijumpai beberapa permasalahan, yaitu :
Siswa yang aktif akan lebih mendominasi diskusi, dan cenderung mengontrol jalannya diskusi.
Siswa yang memiliki kemampuan membaca dan berpikir rendah akan mengalami kesulitan untuk menjelaskan materi apabila ditunjuk sebagai tenaga ahli.
Siswa yang cerdas cenderung merasa bosan.
Pembagian kelompok yang tidak heterogen, dimungkinkan kelompok yang anggotanya lemah semua.
Penugasan anggota kelompok untuk menjadi tim ahli sering tidak sesuai antara kemampuan dengan kompetensi yang harus dipelajari.
Siswa yang tidak terbiasa berkompetisi akan kesulitan untuk mengikuti proses pembelajaran.






Diskusi dalam kelompok ini, untuk mengatasi masalah atau kelemahan yang muncul dalam penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
Pengelompokan dilakukan terlebih dahulu, mengurutkan kemampuan belajar siswa dalam kelas.
Sebelum tim ahli, misalnya ahli materi pertama kembali ke kelompok asal yang akan bertugas sebagai tutor sebaya, perlu dilakukan tes penguasaan materi yang menjadi tugass mereka



PENUTUP

KESIMPULAN
Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw adalah suatu strategi belajar mengajar yang menekan pada sikap atau perilaku bersama dalam belajar atau membantu diantara sesame dalam struktur kerja sama yang teratur dalam kelompok yang terdiri dari dua orang atau lebih.
Penerapan model pembelajaran cooperative learning tipe jigsaw ini pada kelas siswa dibagi berkelompok dengan lima atau enam anggota kelompok belajar heterogen.setiap anggota bertanggung jawab untuk mempelajari,menguasai bagian tertentu bahan yang diberikan kemudian menjelaskan pada anggota kelompoknya. Dengan demikian terdapat rasa saling membutuhkan dan harus berkerjasama secara cooperative untuk mempelajari materi yang ditugaskan.
Kerangka model pembelajaran jigsaw adalah para anggota dari kelompok asal yang berbeda,bertemu dengan topik yang sama dalam kelompok ahli untuk berdiskusi dan membahas materi yang ditugaskan pada masing-masing anggota kelompok serta membatu satu sama lain untuk mempelajari topic mereka tersebut.setelah pembahasan selesai, para anggota kelompok kemudian kembali pada kelompok semula ( asal ) dan berusaha mengajarkan pada teman sekelompoknya apa yang telah mereka dapatkan pada saat pertemuan dikelompok ahli. Kunci tipe JIGSAW ini adalah interdepensi yang diperlukan dengan tujuan agar dapat mengerjakan kuis dengan baik.
Keuntungan mengembangkan kerja tim, ketrampilan belajar kooperatif, dan menguasai pengetahuan secara mendalam yang tidak mungkin diperoleh apabila mereka mencoba untuk mempelajari semua materi sendirian. Sementara untuk kerugiannya ada beberapa yaitu keadaan kondisi kelas yang ramai, siswa yang lemah dimungkinkan menggantungkan pada siswa yang pandai serta membutuhkan waktu yang lebih lama apabila bila ada pernataan ruang belum  terkondisi dengan baik.



DAFTAR PUSTAKA

Silberman, Mel. 2010. Cara Pelatihan & Pembelajaran Aktif. Jakarta: PT Indeks.
https://desykartikaputri.wordpress.com/2013/01/02/makalah-model-pembelajaran-jigsaw/